HoughtonlakeBoard.org

TIPS & EXPERT ADVICE ON ESSAYS, PAPERS & COLLEGE APPLICATIONS

BAB I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

1.1  LATAR BELAKANG

Pada era sekarang , kemiskinan merupakan salah satu
masalah kehidupan yang mendunia , berdasarkan data yang tercatat dari berbagai
belahan dunia menunjukkan bahwa permasalahan kemiskinan telah menjadi salah
satu masalah utama yang hendak diatasi pada tiap negara. Kemiskinan muncul bersamaan
dengan keterbatasan atau ketidakmampuan sebagian manusia dalam mencukupi
kebutuhan hidupnya. Kemiskinan telah ada sejak lama. Pada setiap belahan dunia
dapat dipastikan adanya golongan kaya dan golongan melarat. Kelompok kaya akan
selalu dapat memenuhi kebutuhannya,bahkan berlebih lebih sedangkan Kelompok melarat
akan hidup dalam kesusahan yang membuatnya semakin terpuruk.

Sebagian besar manusia mempunyai pendapat ataupun
gambaran mengenai kemiskinan, mereka berpendapat bahwa kemiskinan menggambarkan
sisi negatif, yaitu pengemis, kotor , kumuh, pengamen yang menggangu jalan
raya, mencemari sungai, penjambretan, penodongan, pencurian hingga pembunuhan..
Dengan demikian, kemiskinan sangat identik dengan kumuh, malas, kotor, tidak
berpendidikan, tidak disiplin, sumber penyakit, dan kekacauan.

Sebagai masalah yang menjadi isu utama global disetiap
negara berkembang, wacana kemiskinan dan pemberantasanya harus menjadi agenda
wajib bagi para pemerintah pemimpin negara. Upaya penuntasan kemiskinan di
Indonesia telah dilakukan dalam berbagai program. Walaupun masyarakat miskin
telah mendapatkan bantuan program penuntasan kemiskinan, tapi hasilnya tidak
seperti yang diharapkan. Masyarakat miskin tetap terjebak dalam kemiskinan dan tidak
dapat bangkit dari kondisi kemiskinannya.

Buddhis adalah agama dengan penganut minoritas di Indonesia
. Buddha mempunyai pengajaran bahwa hidup merupakan masalah dan buddhis menawarkan
jalan / solusi penuntasan terhadap permasalahan secara nyata. Pada zaman era Sang
Buddha ,masih mendapatkan banyak orang yang merasakan kelaparan dan mengalami
kemiskinan. Budhha pernah bersabda “Kelaparan merupakan penyakit yang paling
berat. Segala hal yang bersyarat merupakan suatu penderitaan yang paling besar.
Setelah mengetahui hal ini sebagaimana adanya, orang bijaksan memahami bahwa
Nibanna merupakan kebahagiaan tertinggi” (Dhammapada, Sukha Vagga no. 7).

 

1.2  RUMUSAN MASALAH

1.     Apa
pengertian kemiskinan ?

2.     Apa
penyebab kemiskinan di Indonesia ?

3.     Bagaimana
upaya dalam mengatasi kemiskinan secara umum ?

4.     Bagaimana
pandangan agama Buddha mengenai kemiskinan ?

5.     Bagaimana
ajaran agama Buddha dalam menghadapi / mengatasi kemiskinan ?

1.3  TUJUAN PEMBAHASAN

1.     Mengetahui
pengertian kemiskinan.

2.     Mengetahui
penyebab kemiskinan di Indonesia.

3.     Mengetahui
upaya mengatasi kemiskinan secara umum.

4.     Mengetahui
pandangan agama Buddha mengenai kemiskinan.

5.     Mengetahui
ajaran agama Buddha dalam menghadapi / mengatasi kemiskinan.

1.4  MANFAAT

1.     Dapat
mengetahui pengertian kemiskinan.

2.     Dapat
mengetahui penyebab kemiskinan di Indonesia.

3.     Dapat
menerapkan upaya mengatasi kemiskinan.

4.     Dapat
mengetahui pandangan agama Buddha mengenai kemiskinan.

5.     Dapat
mengetahui ajaran agama Buddha dalam mengatasi kemiskinan.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN KEMISKINAN

Kemiskinan
adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan / ketidakmampuan dalam membeli alat
pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global yang sedang dihadapi oleh kebanyakan
negara , terlebih pada negara yang sedang berkembang. (Wikipedia, 2004)

 

Kemiskinan dapat
dimengerti dan dipahami dalam berbagai pemahaman utama yaitu:

1.    
Kekurangan materi

Kebutuhan
seseorang akan pangan, sandang, perumahan, dan kesehatan. Dapat disebut sebagai
masyarakat yang sedang mengalami kekurangan akan bahan pokok, barang kebutuhan
maupun pelayanan kesehatan.

2.     Kebutuhan
sosial

Keterkucilan
sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam
masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial
biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah
politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.

3.     Kurang
Penghasilan yang memadai.

Makna
“memadai” disini merupakan makna yang berbeda-beda di setiap bagian-bagian
politik dan ekonomi di seluruh dunia.

 

Kemiskinan dapat juga
dibedakan menjadi tiga pengertian:

1.     Kemiskinan
Absolut

Seseorang termasuk golongan miskin
absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum seperti : pangan, sandang,
kesehatan, papan, pendidikan.

2.     Kemiskinan
Relatif

Seseorang yang tergolong miskin relatif
termasuk telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah
kemampuan masyarakat sekitarnya.

3.     Kemiskinan
Kultural

Seseorang yang tergolong miskin
kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang
tidak ingin berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari
pihak lain yang membantunya.

 

 

2.2 PENYEBAB KEMISKINAN DI INDONESIA

ü  Kurangnya
lapangan pekerjaan yang tersedia di Indonesia,

Lapangan pekerjaan yang
terdapat di Indonesia tidak seimbang dibanding jumlah penduduk yang ada dimana
lapangan pekerjaan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Dengan
demikian banyak penduduk di Indonesia yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak
memperoleh penghasilan yang akan menuju pada menyebabkan kemiskinan di
Indonesia.

ü  Tidak
meratanya pendapatan penduduk Indonesia

Pendapatan penduduk yang
didapatkan relatif tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sedangkan ada
sebagian penduduk di Indonesia mempunyai pendapatan yang berlebih. Ini yang disebut
tidak meratanya pendapatan penduduk di Indonesia.

ü  Tingkat
pendidikan masyarakat yang rendah

Banyak masyarakat Indonesia
yang tidak memiliki pendidikan yang di butuhkan oleh perusahaan yang mempekerjakan
tenaga kerja. Jikalau Seseorang ingin agarf dapat memperoleh pendapatan yang
besar dan tinggi maka ia memerlukan tingkat pendidikan yang tinggi atau seminimalnya
orang tersebut memiliki suatu keterampilan yang memadai sehingga dapat memperoleh
pekerjaan dan menghasilkan pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari

ü  Merosotnya
standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global.

Standar pendapatan per-kapita
bergerak seimbang dan selaras dengan produktivitas yang ada pada suatu sistem.
Jika tingkat produktivitas suatu daerah meningkat maka pendapatan per-kapita
pun naik. Dan juga sebaliknya, jika produktivitas menurun maka pendapatan per-kapita
akan turun secara bersamaan.

ü  Menurunnya
etos kerja dan produktivitas masyarakat.

Untuk menaikkan etos kerja dan
produktivitas masyarakat harus didukung dengan Sumber Daya Alam (SDA) dan
Sumber Daya Manusia (SDM) yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan
yang bisa dipertanggungjawabkan dengan maksimal.

ü  Biaya
kehidupan yang tinggi.

Tidak semua wilayah  Indonesia memiliki biaya kehidupan yang
tinggi. Wilayah yang memiliki biaya hidup yang tinggi biasanya berasal dari
wilayah yang terpencil atatupun lokasinya jauh dari lokasi distributor. Salah
satu yang membuat tingginya harga barang jual adalah biaya transportasi yang
hendak dikeluarkan untuk mengirim barang jual ke lokasi yang tergolong jauh.

ü  Kurangnya
perhatian dari pemerintah.

Masalah kemiskinan sudah menjadi masalah
negara yang semakin berkembang setiap tahunnya dan pemerintah Indonesia sampai
sekarang belum mampu mengatasi masalah tersebut. Kurangnya perhatian pemerintah
akan faktor kemiskinan mungkin menjadi salah satu penyebabnya.

 

2.3 UPAYA MENGATASI KEMISKINAN SECARA UMUM

Indonesia
dapat mengatasi kemiskinan dengan beberapa cara berikut :

1.     Memperluas
lapangan kerja

Dengan meningkatkan dan memperluas
lapangan kerja, tingkat pengangguran di Indonesia akan menurun dan juga akan
diikutin dengan menurunnya tingkat kemiskinan.

2.     Menjaga
stabilitas harga bahan pokok

Pemerintah harus dapat menjaga
stabilitas harga pokok agar masyarakat yang tergolong miskin akan dapat
memenuhi barang kebutuhan pokok mereka sehari hari.

3.     Meningkatkan
fasilitas transportasi daerah terpencil

Pemerintah dapat mengurangi jumlah
kemiskinan di Indonesia dengan cara meningkatkan fasilitas di sektor
transportasi agar dapat meminimalkan biaya pengangkutan dan mempercepat
pengiriman hingga ke daerah pelosok. Maka biaya bahan pokok di daerah terpencil
tidak akan melonjak menjadi mahal.

4.     Memberikan
Beasiswa / Dana dalam bidang pendidikan

Dengan mengadakan Beasiswa bagi Anak
miskin dan berprestasi, pemerintah dapat mengurangi kemiskinan dan meningkatkan
niat anak tersebut untuk bersekolah maupun kuliah.

5.     Memberantas
Korupsi

Korupsi merupakn faktor terbesar yang
menyebabkan kemiskinan terutama di Indonesia. Dengan di berantasnya Korupsi
yang ada di Indonesia, maka uang rakyat tidak akan dimakan para tikus korupsi,
melainkan akan digunakan dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.

6.     Mengatur
Ekspor dan Impor

Dengan membatasi barang barang Impor dan
meningkatkan barang barang ekspor, maka Indonesia dapat mengurangi biaya untuk
membeli barang Impor dari negara lain, melainkan dapat meningkatlan pendapatan
negara dengan meningkatkan Ekspor.

2.4 PANDANGAN BUDDHA MENGENAI KEMISKINAN

Buddha pernah bersabda
 ” mereka yang pada masa mudanya tidak
menjalankan kehidupan benar, mengumpulkan kekayaan akan hidup miskin dan merana
seperti bangau tua yang hidup dalam kolam tanpa ikan” (Dhp.155)

Menurut
agama Buddha kemiskinan adalah sesuatu yang tidak baik / buruk karena
melibatkan dukkha. Dukkha merupakan konsep agama Buddha yang paling mendasar, tetapi
sering disalahpahami. Terjemahan bahasanya adalah “penderitaan, frustasi,
ketidakpuasan” , namun, “suatu kondisi kurang kesehatan, kebahagiaan, atau
kesejahteraan” juga dapat merupakan terjemahan dalam konteks ini. Ilmu ekonomi
yang melibatkan pengumpulan kekayaan materi sebenarnya tersirat dari sabda
buddha yang pertama (dhammacakkapavattana suttanta) sebagai bentuk mata pencaharian
benar (samma ajiva) yang dapat membantu proses pencerahan spiritual
(S.V.421-422).

Tujuan
jalur Buddhis adalah mengakhiri dukkha semua mahkluk (Vbh.237) dan itu tidak
melibatkan membuat perbedaan yang menyolok antara dukkha duniawi dan yang
transendental. Sebagai sebuah filsafat dan jalan hidup yang mengusung
pelenyapan dukkha, agama Buddha tidak dan tidak boleh menghargai kemiskinan
yang merupakan sumber dukkha. Dalam salah satu sabdanya Buddha mengatakan bahwa
bagi orang yang menikmati kesenangan indriya, kemiskinan (daliddiya) merupakan
kesengsaraan karena akan membawa pada peminjaman dan peningkatan hutang, dan
dengan demikian, penderitaan pun bertambah (A.VI.45).

Buddha
pernah menceriterakan kisah seorang raja yang pada awalnya memuliakan dan
mengandalkan ajaran Buddha, melakukan sebagaimana yang dinasihatkan penasihat
kerajaan untuk tidak membiarkan kejahatan terjadi dalam kerajaan dan secara
rutin memberikan dana (properti) kepada kaum miskin. Tapi raja kemudian mulai
memerintah menurut idenya sendiri dan tidak memberikan properti kepada kaum
papa, akibatnya kemiskinan pun meluas. Karena kemiskinan seorang penduduk
mengambil barang yang tidak diberikan sehingga ditangkap oleh pihak kerajaan;
saat raja menanyakan sebab terjadinya pencurian, penduduk mengatakan bahwa tidak
punya harta untuk menyambung hidup. Raja akhirnya memberikan properti dengan
mengatakan bahwa properti itu akan cukup untuk melakukan usaha dan menopang
keluarganya.

Tindakan
pencurian yang dilakukan menjadi inspirasi bagi berkembangnya tindakan
pencurian dan berbagai bentuk kejahatan lainnya, kerajaan menjadi tidak aman
dan kacau. Mendengar terjadi banyak pencurian dan kejahatan orang menyiapkan
berbagai alat pengaman berupa senjata tajam dan akhirnya terjadi banyak kasus
pembunuhan. Dengan demikian, dari tidak memberikan properti pada kaum papa,
kemiskinan meluas, dari berkembangnya kemiskinan, pengambilan akan apa yang
tidak diberikan meningkat, dari meningkatnya pencurian, meningkatlah penggunaan
senjata, dari meningkatnya penggunaan senjata, meningkatlah pembunuhan….”
(D.III.69-70).

Cerita
dari Cakkavati Sihanada Sutta adalah gambaran sistem kepedulian sosial suatu
negara yang kurang sebagai pemicu utama kemiskinan dan berbagai tindak
kejahatan. Penegasan yang lain terdapat dalamsabda Buddha “jika penguasa
bersikap adil  dan baik maka  para menteri berlaku adil dan baik, jika para
menteri berlaku adil dan baik maka para pejabat eselon akan berlaku adil dan
baik, jika  para pejabat eselon akan
berlaku adil dan baik maka para bawahan 
bersikap adil dan baik, jika para bawahan  bersikap adil dan baik maka rakyat menjadi
adil dan baik” (D.III. 26).

 

2.5 CARA
MENGATASI KEMISKINAN MENURUT AJARAN BUDDHA

 

Hidup
susah, miskin, tadak berkecukupan, tidak bahagia, tidak layak , tidak
berpendidikan dan sebagainya merupakan suatu penderitaan. Dengan  pengetahuan dan menggunakan kemajuan
teknologi, kerja keras dan disiplin; penderitaan-penderitaan tersebut pasti
bisa diatasi. Sang Buddha sendiri menuntut kepada kita untuk:

 

1.      Uttanasampada

Kerja keras, jangan malas, jangan
menggantungkan diri kepada siapapun juga. Dalam Dhammapada 112, Sang Buddha
menyatakan: “Walaupun seseorang hidup seratus tahun tetapi malas dan tidak
bersemangat, maka sesungguhnya, lebih baik orang yang hidup hanya sehari tetapi
berjuang dengan penuh semangat.”

2.      Arakkhasampada

Jaga dengan baik apa yang telah
engkau capai. Jangan sia-siakan!

3.      Kalyanamittata

Mempunyai teman yang mendorong
kemajuan.

4.      Samajivita

Menggunakan yang telah dicapai dengan
perencanaan yang baik.

 

Dengan empat cara
ini, seseorang pasti bisa mengatasi kekurangan dan kemiskinan.(Djibran, 2008)

 

Dari
sudut pandang Buddhis, upaya-upaya kelembagaan pengentasan dan pembangunan
ekonomi yang telah dilakukan di Indonesia sebenarnya ada yang justru
memperburuk masalah-masalah sosial (kemiskinan) yang hendak diselesaikan. Jauh
dari menyediakan solusi, pendekatan pembangunan yang hingga saat ini masih
diterima begitu saja tanpa dipertanyakan, justru lebih baik dipahami sebagai
masalah itu sendiri.

 Agama Buddha dapat membantu dalam melihat,
mendiagnosa dan mengusulkan ke depan alternatif-alternatif yang lebih memungkinkan
untuk dilaksanakan.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 KESIMPULAN

Untuk mengatasi
kemiskinan sebagai masalah yang utama dan komplek, harus melibatkan berbagai
faktor seperti kualitas pendidikan, kecukupan pangan serta moralitas penguasa
negara dan penegakan hukum, agar kemiskinan dapat dikurangi ataupun diberantas.

Kehidupan sebagian
besar umat buddha yang berada di bawah garis kemiskinan disebabkan karena
rendahnya pendidikan umat buddha itu sendiri dan juga kepedulian pemerintah
terhadap masyarakat. Buddha juga mengajarkan dan menuntut kepada yang miskin
itu sendiri untuk : Uttanasampada , Arakkhasampada , Kalvanamittata ,
Samajivita. Generasi muda buddhis harus mau merubah paradigma untuk memutus
rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu sebagian besar umat buddha.

 

3.2 SARAN

Pemerintah sudah
seharusnya lebih memerhatikan kemiskinan dan membentuk suatu regulasi atau
solusi untuk mengatasi kemiskinan yang ada di Indonesia, agar Indonesia dapat
lebih maju dan dapat bersaing dengan negara berkembang dan negara maju. Tidak
hanya pemerintah yang dapat melakukan perubahan akan kemiskinan , tetapi kita
sebagai masyarakat juga dapat mengurangi tingkat kemiskinan di Indonesia dengan
cara memberikan dana dalam bentuk aksi social kepada mereka yang miskin dan
kurang mampu.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Irvin!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out