HoughtonlakeBoard.org

TIPS & EXPERT ADVICE ON ESSAYS, PAPERS & COLLEGE APPLICATIONS

Hubungan
internasional merupakan cabang disiplin ilmu yang terutama memperhatikan
hubungan politik antar negara. Hubungan internasional mencakup pengkajian
terhadap politik luar negeri dan politik internasional, dan meliputi segala
segi hubungan diantara berbagai negara (Howard Lentner, 1974: 58). Hubungan
tersebut kian hari kian beragam, baik hubungan yang bersifat kerjasama maupun
hubungan yang bersifat konflik.

Pada
umumnya, negara melakukan kerjasama didasarkan pada perbedaan berbagai faktor,
yaitu faktor sumber daya manusia dan sumber daya alam. Letak geografis yang
berbeda antara negara satu dengan negara lainnya menyebabkan perbedaan pada
sumber daya suatu negara. Alhasil, untuk memenuhi kebutuhan akan suatu hasil
bumi, negara kerap melakukan kerjasama perdagangan dengan negara lainnya.
Kerjasama lain yang dilakukan negara antara lain kerjasama dalam bidang
pendidikan yang pada umumnya diimplementasikan melalui pemberian beasiswa
maupun pertukaran pelajar.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Namun,
hubungan internasional tidak hanya diwarnai dengan hubungan kerjasama. Ada
kalanya, hubungan tersebut bersifat konflik ataupun perang. Pada tahun 1957,
Iran bersama Amerika telah menandatangani perjanjian program Atom untuk
Perdamaian (Atom for Peace), sebagai bentuk kerjasama penelitian penggunaan
energi atom secara damai (Greg Bruno, 
2010). Kemudian, pada tahun 1974 Iran menyatakan keinginannya untuk
mengembangkan senjata nuklir. Keinginan Iran tersebut disambut dengan respon
negatif Amerika. Awalnya, Amerika menolak rencana Iran melalui perjanjian
pembatasan nuklir dengan Iran. Namun, ternyata Iran tetap mengembangkan senjata
nuklir.

Dari
masalah tersebut, maka timbulah pertanyaan penelitian, “Bagaimana strategi
Amerika Serikat dalam mencegah pengembangan nuklir oleh Iran?’ Penelitian ini
tergolong ke dalam penelitian kualitatif, dengan unit analisa strategi Amerika
Serikat, dan unit eksplanasi pengembangan nuklir Iran. Sumber data penelitian
ini adalah data sekunder berupa kajian pustaka.

Pembahasan

a.    Program
Nuklir Iran

     Pada tahun 1957, Iran bersama Amerika telah
menandatangani perjanjian program Atom untuk Perdamaian (Atom for Peace),
sebagai bentuk kerjasama penelitian penggunaan energi atom secara damai (Greg
Bruno, 2010).

Dua
puluh tahun kemudian, Iran bergerak cepat untuk mengembangkan pembangkit
listrik tenaga nuklir (PLTN). Sehingga didirikanlah Tehran Nuclear Research
Center (TNRC) pada tahun 1975. TNRC dilengkapi dengan reaktor penelitian nuklir
sebesar 5 megawatt dari Amerika. Reaktor ini dikenal dengan sebutan Tehran
Research Reactor (TRR) yang mengkonsumsi kadar uranium tinggi sebagai bahan
bakarnya.

Hal
penting dalam perjanjian ini adalah, Iran akan mendapat dukungan nuklir dari
Amerika apabila Iran menandatangani perjanjian non-proliferasi senjata nuklir
(Non-Proliferation of Nuclear Weapons/NPT). Pada tahun 1968 Iran menandatangani
NPT sehingga dibukalah program nuklir Iran untuk selalu di kontrol oleh
International Atomic Energy Agency (IAEA) (Greg Bruno, 2010).

Di
tengah pengembangan program nuklir tersebut, Iran menyatakan keinginannya dalam
mengembangkan senjata nuklir. Hal ini diperkuat dengan komentar Presiden Iran,
Shah Mohammad Reza Shah Pahlavi bahwa Iran harus menyiapkan diri untuk
menciptakan senjata nuklir apabila negara non-anggota pengembang nuklir,
menciptakan nuklir (William Burr, 2009: 34). Pernyataan tersebut muncul akibat
adanya tes senjata nuklir oleh India pada 1974. Tes senjata nuklir tersebut
merupakan tes senjata nuklir pertama oleh negara yang bukan merupakan anggota
permanen Dewan Keamanan PBB (Nuclear Weapon Archive, 2001).

Menanggapi
pernyataan Iran, Amerika memutuskan untuk membuat perjanjian lanjutan serta
pembatasan pada program nuklir Iran. Namun, Iran merasa kebijakan Amerika
menggambarkan ketakutan Amerika apabila negara lain juga mengembangkan senjata
nuklir. Ditengah berbagai perselisihan, akhirnya pada tahun 1978 di
tandatanganilah perjanjian yang mengizinkan Amerika untuk menggunakan hak veto
dalam pengolahan ulang bahan bakar nuklir (William Burr, 2009: 34). Perjanjian
tersebut menimbulkan tekanan diantara pemerintah Iran, beberapa beranggapan
bahwa Shah terlalu tunduk pada kemauan Amerika.

Revolusi
di Iran pada tahun 1979 membawa perubahan besar bagi program nuklir Iran.
Sehingga dibawah pemerintahan Ayatollah Ruhollah Khomeini tahun 1990, Iran
menandatangani perjanjian dengan Rusia untuk mendapatkan pakar nuklir Rusia
serta informasi mengenai tenaga nuklir.

Kemudian
pada tahun 2002, sebuah kelompok yang disebut National Council of Resistance of
Iran mengungkapkan keberadaan fasilitas pengayaan uranium di Natanz (Greg
Bruno, 2010). Ketegangan antara Iran dan dunia barat tumbuh pesat pada 2006
ketika Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad menyatakan bahwa Iran telah mencapai
tujuannya dalam memperkaya uranium. Amerika adalah negara yang paling mengecam
keputusan Pemerintah Irak untuk melanjutkan pengayaan uranium. Secara rahasia
Amerika menyiapkan sebuah rencana untuk menghentikan program nuklir Iran.
Rencana rahasia ini baru terungkap pada Juni 2010.

b.    Munculnya
Stuxnet

Pada era globalisasi yang
ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi,
perang tidak lagi dilakukan dengan berhadap-hadapan dengan senjata
konvensional. Serangan dilakukan secara maya melalui internet dengan target
operasi sistem jaringan suatu negara. Hal ini sangat berbahaya, mengingat dalam
era globalisasi segala kegiatan ekonomi, sosial, politik, budaya terintegrasi
dalam sebuah sistem jaringan. Sehingga serangan yang dilakukan dalam dunia
maya/cyber attack merupakan ancaman bagi ketahanan nasional sebuah
negara.  

The
Supervisory Control And Data Acquisition (SCADA) merupakan sistem kontrol
jaringan industri yang bertanggung jawab pada proses kontrol industri seperti
manufaktur, pembangkit listrik, berbagai infrastruktur seperti pipa minyak dan
gas serta fasilitas seperti bandara, stasiun luar angkasa dan lain-lain. Sistem
kontrol tersebut sangat penting bagi perekonomian dunia dalam berbagai sektor
industri. Ketergantungan penggungan teknologi tinggi dan manajemen otomatis
dalam sektor ini, menyebabkan rentannya sistem dalam berbagai ancaman  serangan cyber/cyber attack. Sehingga
terserangnya sistem oleh cyber attack tersebut akan berdampak buruk pada
dunia nyata (T. Chen dan S. Abu-Nimeh, 2011: 91-93).

Cyber
attack yang akan dibahas dalam pembahasan ini
adalah serangan Stuxnet worm yang dilakukan Ameika-Israel terhadap
reaktor nuklir Iran. Serangan ini telah direncanakan sejak masa pemerintahan
George W. Bush, pada saat itu Bush merancang sebuah file virus dengan kode olimpic
games. File virus ini lolos dan merambat ke komputer di seluruh dunia pada
musim panas 2010 melalui internet setelah terjadi ketidaksengajaan pemrograman,(David
E. Sanger, 2012)1
pakar keamanan komputer Amerika dan Israel mempelajarinya dan menyebutnya
stuxnet (David E. Sanger, 2012)

Stuxnet mampu menyusup
dan menyabotase sistem dengan cara memperlambat ataupun mempercepat motor
penggerak reaktor nuklir, bahkan dapat membuatnya berputar diatas kecepatan
maksimum. Kecepatan ini akan merusak komponen reaktor untuk memproduksi bahan
bakar uranium. Presiden Barack Obama, menyebutkan bahwa serangan Stuxnet
worm ini merupakan langkah untuk memperlambat kemajuan perkembangan program
nuklir Iran. (Tikun Olam, 2010). Hal ini dikonfirmasi lewat investigasi
Kaspersky Labs terhadap virus tersebut, “serangan worm seperti ini hanya dapat
diwujudkan dengan dukungan sebuah negara.” (William Mclean, 2010)

1 David E.
Sanger, (2012) “Obama Order Sped Up Wave of Cyber attacks Againts Iran,” The
New York Times: Middle East, http://www.nytimes.com/2012/06/01/world/middleeast/obama-ordered-wave-of-cyber-attacks-againts-iran.html?_r-2& diakses 26
Mei 2017

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Irvin!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out