HoughtonlakeBoard.org

TIPS & EXPERT ADVICE ON ESSAYS, PAPERS & COLLEGE APPLICATIONS

Perkembangan sistem thingking terbagi
menjadi 4 yaitu Kibernetika (cybernetics)
pada tahun 1947 oleh Nobert Weiner dan Nevmann, System Dynamics pada tahun 1950-an oleh Jay W. Forrester, Soft System Methodology (SSM) pada awal
tahun 1980-an oleh Peter Checkland, dan yang terakhir Critical System Thingking pada tahun 1990 – sekarang oleh Senge
Churchman.

            Kali
ini saya akan membahas sistem thingking pada perkembangan terakhirnya yaitu
Pemikiran yang kritis atau Critical
System Thingking (CST). Di mana
kecenderungan baru dalam pemikiran sistem ini adalah pemikiran itu sendiri
menemukan dirinya sendiri bukan hanya dari pendekatan tradisional, tetapi juda
dalam kaitannya dengan sifat dan tujuan disiplin ilmu tesebut. Menariknya lagi
pemikiran sistem kritis (CST) ini mendapat reaksi yang menarik dari berbagai
kelompok, karena dapat memberikan penekanan yang berbeda mengenai subjek
permasalahan dan konsep kuncinya, dan juga kadang dapat memberikan interpretasi
yang berbeda mengenai fungsi dari pemikiran sistem itu sendiri.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Sejumlah
orang berusahan menemukan kembali suatu versi pendekatan sistem melalui
popularisasi debat kusri dan teori komplek. Dan pada akhirnya, seluruh
pemikiran sistem masuk ke dalam milenium ketiga pada posisi yang cukup aman di
dalam ilmu sosial, di bandingkan dengan posisinya pada tiga puluh tahun lalu.
Pemikiran sistem kritis yanfg disebut sebagai “paradigm radikal” telah di buka
dalam pemikiran sistem, sebagai usaha untukk merekonstruksi pemikiran sistem
dengan landasan plurasi.

            Kemampuan
berpikir kritis merupakan kemampuan yang esensial untuk kehidupan, pekerjaan,
dan berfungi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya. Proses berpikir ini
di lakukan sepanjang waktu sejalan dengan keterlibatan kita dalam pengalaman
baru dan menerapkan pengetahuan yang kita miliki, kita menjadi mampu untuk
membentuk asumsi, ide – ide dan membuat kesimpulan valid, semua proses tersebut
tidak lepas dari sebuah proses berpikir dan belajar. Untuk lebih mengoptimalkan
dalam proses berpikir kritis setidaknya kita paham atu tahu dari komponen berpikit
kritis itu sendiri, dari komponen berpikir kritis meliputi pengetahuan dasar,
pengalaman, kompetensi, sikap dalam berpikir kritis, standar/karakteristik berpikit
kritis.

            Keterampilan
kognitif yang di gunakan dalam berpikir kualitas tinggi memerluka disiplin intelektual.
Evaluasi diri, berpikir ulang, oposisi, tantangan dan dukungan. Berpikir kritis
adalah proses perkembangan kompleks yang berdasarkan pada pikiran rasional dan
cermat menjadi pemikiran kritis adalah denominator umum untuk pengetahuan yang
menjadi contoh dalam pemikiran yang disiplin dan mendiri.

Diantaranya ada juga ciri – ciri kita
sedang berpikir secara kritis adalah

1)     Mampu
membuat kesimpulan dan solusi ynag akurat, jelas, dan relevan terhadap kondisi
yang ada. Berpikir.

2)     Berpikir
terbuka dengan sistematika dan mempunyai asumsi, implikasi, dan konsekuensi
yang logi.

3)     Berkomunikasi
secara efektif dalam menyelesaikan suatu masalah yang komplek.

            Di
mana saat kita berpikir secara kritis itu merupakan cara untuk membuat suatu
pribadi yang terarah, disiplin, terkontrol, dan korektif terhadap diri kita
sendiri. Hal itu tentu saja membutuhkan kemampuan komunikasi efektif dan metode
penyelesaian masalah serta komitmen untuk mengubah paradigm egosentris dan
sosiosentirs kita.

Berpikir secara kritis dalam diukur
dengan 4 cara yaitu :

1)     Observasi
cara kinerja seseorang selama suaru kegiatan. Dapat di lakukan dengan mengacu
pada komponen berpikir kritis yang akan diukur, kemudian menyimpulkan bagaimana
tingkat berpikir kritis secara individu yang diobservasi tersebut.

2)     Melalui
pengukuran outcome dari komponen – komponen berpikir kritis yang telah
diberikan.

3)     Pengajuan
pertanyan dan menerima penjelasan seseorang mengenai produser dan keputusan
yang diambil terkait dengan komponen berpikir kritis yang akan diukur

4)     Terakhir
dengan cara membandingkan outcome suatu komponen berpikir kritis dengan cara
berpikir kritis lainnya.

            Tidak
adanya petunjuk baku mengenai masing – masing cara, dari itu semua yang
terpenting yaitu bagaimana menetukan cara pengukuran yang kita pilih mampu
menggali komponen berpikir kritis yang akan kita nilai. Penyelesaian yang
terbaik adalah dengan menggunakan penggabungan berbagai metode sehingga gambaran
kemampuan berpikir kirtis individu cukup valid.

            Berpikir
kritis ternyata juga ada elemennya sendiri, berbagai elemen yang digunakan
dalam penelitian dan komponen, pemecahan masalah, keperawatan serta criteria
yang digunakan dengan komponen keterampilan dan sikap berpikir kritis. Elemen
berpikir kritis ataran lain yaitu menentukan tujuan,  menyusun pertanyaan atau membuat kerangka
masalah, menunjukan bukti, menganalisis konsep, dan melakukan asumsi.

Menurut salah satu pakar (Anderson,
2003) mengenai berpikir kritis itu sendiri ada indikator dan sub – indikator
menurut kesepakatan internasional adalah :

a.       Interpretasi
(interpretation) dikategorikan
menjadi 3 bagian yaitu pengkategorian, mengkodekan / membuat makna kalimat dan
pengklasifikasikan makna.

b.      Analisis
(analysis) diketegorikan menjadi 3
bagian yaitu  menguji dan memerikasa ide –
ide, mengidentifikasi argument, dan mengenalisis argument.

c.       Evaluasi
(evaluation) dikategorikan menjadi 2
bagian yaitu mengevalusasi dan mempertimbangkan klaim / pernyataan, dan mengevaluasi
dan mempertimbangkan argument.  

d.      Menarik
kesimpulan (inference) dikategorikan
menjadi 3 bagian yaitu menyertakan fakta atau data, membuat berbagai alternative
konjektur, dan menjelaskan kesimpulannya.

e.       Penjelasan
(explanation) dikategorikan menjadi 3
bagian yaitu menuliskan hasil, mempertimbangkan prosedur, dan menghadirkan argument.

f.       
Kemandirian  (self-regulation)
dikategorikan menjadi 2 bagian yaitu melakukan pengujian secara mandiri, dan melakukan
koreksi secara mandiri.

            Berpikir menggunakan proses secara
simbolik yang menyatakan objek – objek nyata, kejadian –kejadian dan penggunaan
pernyataan simbolik untuk menemukan prinsip – prinsip mendasar suatu objek dan
kejadian. Di dalam proses berpikir berlangsung kejadian menganalisis,
mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasarkan pada inferensi atau
pertimbangan yang seksama. Dengan perpikir kritis, orang jadi memahami adanya
inferensi dan mampu menginterpretasi, mampu mengenali kesalahan, mampu
menggunakan bahasa dalam berargumen, menyadari dan mengendalikan egosentri dan
emosi, dan responsive terhadap pandangan yang berbeda. Sudur pandang berpikir
kritis disampaikan oleh Eggen dan Kauchak (1996) bahwa berpikir kritis adalah
sebuah keinginan untuk mendapatkan informasi, dimana kita kecendrungan untuk
mencari sebuah bukti, keinginan untuk mengetahui kedua sisi dari seluruh
permasalahan, adanya sikap keterbukaan pikiran, kecendrungan untuk tidak
mengeluarkan pendapat (menyatakan penilaian), dapat menghargai pendapat orang
lain, dan toleran terhadap keambiguan.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Irvin!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out