HoughtonlakeBoard.org

TIPS & EXPERT ADVICE ON ESSAYS, PAPERS & COLLEGE APPLICATIONS

Potensi
Ekonomi Laut Indonesia

Indonesia merupakan
negara maritim, yaitu sebuah negara yang memiliki luas wilayah perairan yang
sangat luas. Apabila kekayaan laut dapat dikelola dengan baik, maka potensi
ekonomi yang dimiliki dapat memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi nasional.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Ekonomi berbasis kelautan
memiliki peran strategis untuk dikembangkan sebagai penopang perekonomian.
Sektor-sektor strategis pada bidang kelautan antara lain sektor perikanan,
sektor  perhubungan laut, sektor industri
kelautan, sektor energi dan sumberdaya mineral kelautan, sektor pariwisata
bahari, dan sektor bangunan kelautan, serta sektor jasa kelautan.

Potensi perikanan tangkap
Indonesia memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar, yaitu dengan nilai
produksi mencapai Rp125,38 triliun dengan volume produksi 6,83 juta ton pada
tahun 2016. Selain itu, Indonesia memiliki potensi lahan perikanan budidaya
laut mencapai 12 juta hektar (ha). Sementara total luas pemanfaatannya hanya
mencapai 325 ribu ha atau sekitar 2,69% dari total potensi yang ada, dengan
capaian volume produksi budidaya laut hingga akhir 2016 mencapai 11,7 juta ton.

Keanekaragamaan hayati
dan non-hayati dapat pula dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, misalnya
hutan mangrove di pesisir pantai dapat diproduksi menjadi pupuk pertanian,
bahan baku kertas, makanan, obat-obatan minuman, tekstile, atau tempat
rekreasi. Selain mangrove, ekosistem terumbu karang memiliki  keanekaragaman hayati yang bernilai ekonomis,
seperti berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, teripang, serta  berbagai jenis keong dan kerang. Beberapa
tempat di Indonesia menggunakan karang batu untuk berbagai kepentingan, seperti
konstruksi jalan dan bangunan,  atau
bahan baku industri pembuat kapur. Melihat potensi keindahaan, terumbu karang
yang masih utuh menampilkan pemandangan luar biasa yang mampu dijadikan tempat
wisata bahari, misalnya taman laut Bunaken, Wakatobi dan Raja Ampat

Wilayah pantai di
Indonesia memiliki berbagai macam keindahan, seperti pantai di bali yang sering
dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan pantai menjadi ciri
khas tersendiri bagi Indonesia sehingga dapat menarik wisatawan untuk
berkunjung menikmati keindahan alam pantai. Hal ini memberikan benefit sebagai
sumber pendapatan negara, serta mampu meningkatkan devisa negara melalui kedatangan
wisatawan mancanegara.

Tidak hanya sumber daya
alam yang indah dan berlimpah, wilayah laut Indonesia juga memiliki potensi
besar untuk dimanfaatkan dalam bidang energi. Salah satunya yaitu sebagai
sumber energi listrik, misalnya dengan memanfaatkan gelombang dan arus pasang
surut, menggunakan teknologi Ocean
Thermal Energy Conversion (OTEC), yaitu penggunaan energi baru terbarukan
yang memanfaatkan perbedaan temperatur air laut pada perairan laut tropis.

Masalah
Kelautan Indonesia

Upaya memanfaatkan
potensi laut sebagai penggerak ekonomi, serta menjadi bagian dari visi
pemerintah yaitu pembangunan dan pengembangan potensi laut sebagai poros
maritim dunia memiliki beberapa permasalahan yang merintangi hal tersebut. Berikut
merupakan permasalahan kelautan Indonesia.

 

 

a.      
Permasalahan Ekologi

Pembangunan instalasi
produksi ikan, baik perikanan tangkap atau budidaya masih menyisakkan berbagai
permasalahan lingkungan. Industri perikanan di pesisir pantai belum dilengkapi
dengan fasiltas pemurnian limbah, sehingga limbah berbahaya yang terkandung di
dalamnya dibuang ke laut yang menyebabkan turunnya tingkat kualitas air laut
dan merusak ekosistem.

Deforestasi hutan
mangrove akibat adanya eksploitasi berperan signifikan terhadap kerusakan alam
lainnya. Deforestasi menghasilkan tingkat sedimentasi yang tinggi di perairan
pesisir, misalnya yang terjadi di pantai utara perairan Jawa Tengah, yang
diterima oleh aliran sungai dan air sungai dari daerah terkikis. Sedimentasi
mencapai sekitar 135 mg /cm2/bulan. Selain itu, ini mengakibatkan penurunan
hidup cakupan terumbu karang di beberapa daerah, dari sekitar 40% menjadi di
bawah 30% (Supriharyono, 1990). Dalam penelitian di Karimunjawa National Park,
Supriharyono et al (1999) melaporkan bahwa kliring mangrove di Karimunjawa dan
Kepulauan Kamojan telah mempengaruhi pertumbuhan karang menjadi lebih lambat.

Pemanfaatan wilayah
pesisir laut sebagai objek wisata akan mendorong banyaknya kunjungan wisatawan
domestik maupun internasional, maka dengan demikian hal itu menyebabkan masalah
lingkungan pesisir pantai, misalnya banyak ditemukan tumpukan sampah yang
membentang di pesisir pantai kepulauan seribu

b.     
Permasalahan Pertahanan dan Keamanan

Kurangnya pengawasan
terhadap wilayah laut kerap digunakan sebagai celah masuknya nelayan illegal
dari berbagai negara. Dapat diartikan bahwa dalam kejadian ini terdapat
pelanggaran batas-batas wilayah yang mengancam kedaulatan negara. Kasus ini
dapat pula ditinjau dari segi ekonomi, misalnya dalam beberapa kasus, nelayan
asing ini menggunakan kapal besar dan alat penangkap ikan massal, sehingga
eksploitasi kekayaan laut Indonesia hanya dirasakan oleh pihak asing.
Berdasarkan data yang diperoleh, kerugian ekonomi yang dialami oleh negara
Indonesia sebanyak 300 triliun/tahun.

Lemahnya tingkat keamanan
mendorong adanya upaya transaksi narkoba, transhipment, perdagangan senjata
ilegal, serta penyelundupan BBM  yang
dilakukan ditengah laut

c.      
Permasalahan Ekonomi dan Teknologi

Masih rendahnya
penguasaan teknologi maritim dan kurangnya kesadaran nelayan lokal dalam
melakukan penangkapan ikan secara berkelanjutan. Misalnya di wilayah barat
Indonesia terdapat kecenderungan penggunaan trawl dan cantrang, wilayah natuna
menggunakan obat bius untuk penangkapan ikan, serta daerah sulawesi dan papua
masih menggunakan bahan peledak.

Kurangnya kapal
berkapasitas besar yang dimiliki nelayan menjadi permasalahan dari segi
produktifitas penangkapan ikan. Penggunaan kapal-kapal berukuran kecil justru
merugikan, karena BBM yang digunakan tidak disalurkan secara efektif untuk
mendapatkan hasil tangkap dengan jumlah yang besar.

Fasilitas penunjang
perkapalan di Indonesia masih tergolong belum memadai. Kurangnya jumlah
pelabuhan, serta buruknya kualitas galangan kapal menyebabkan konektifitas
antar-daerah menjadi terhambat.

Investasi untuk membangun
pusat perikanan terpadu seringkali menjadi hambatan pemerintahan Indonesia
dalam mempromosikan potensi laut kepada para investor. Kurangnya asupan dana
untuk membangun kawasan yang saling terintegrasi ini menghambat pengelolaan
industri perikanan. Misalnya pembangunan pasar ikan tanpa pembuatan cold
storage akan mengurangi tingkat ketahanan kualitas ikan dan meningkatkan resiko
kerugian materil

d.     
Permasalahan Hukum dan Birokrasi

Banyaknya aturan dan
kewenangan yang tumpah tindih berdampak pada permasalahan sektoral, sehingga
menghambat tata kelola kelautan yang efektif dan efisien. Terdapat 23
Undang-Undang yang mengatur tentang kelautan, namun tidak ada Undang-Undang
yang mengintegrasikan peran lembaga agar pengelolaan kelautan dapat dikelola
secara komprehensif dan profesional

Misalnya sebelum tahun 2014, kewenangan pengelolaan
terumbu karang berada dibawah kementerian kehutanan berdasarkan Undang-Undang Kehutanan No. 18 tahun 2013. Begitupun
dengan pengelolaan mangrove dan satwa yang ada didalamnya menjadi kewenangan
kementrian kehutanan

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Irvin!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out